Langsung ke konten utama

MEREDAM DENDAM

MEREDAM DENDAM

Bacaan: Markus 6:14-29

Pada kesempatan kali ini, kita akan mempelajari kisah tragis dalam Alkitab yang mengisahkan tentang dendam yang meluap-luap hingga menuntun kepada kejahatan. Khotbah kita kali ini berjudul "Meredam Dendam" dan sumber teks kita adalah Injil Markus pasal 6, ayat 14-29. Kata dendam dalam Markus pasal 6 memakai kata enecho ἐνέχω (Yunani) = menyimpan dendam, menyimpan amarah, terjerat sendiri oleh amarah/dendam. Dendam timbul dari amarah, iri, kecewa yang tidak segera dibereskan.

Dalam pasal ini, kita diperkenalkan kepada Raja Herodes, seorang penguasa yang berkuasa atas wilayah Galilea. Perhatian Herodes tertuju pada Yesus dan mujizat-mujizat yang Dia lakukan. Orang-orang banyak berbicara tentang Yesus dan membuat spekulasi mengenai identitas-Nya. Ada yang percaya bahwa Yesus adalah nabi Elia yang telah bangkit dari antara orang mati, dan ada juga yang percaya bahwa Dia adalah seorang nabi yang muncul kembali. Tidaklah mengherankan bahwa kabar ini mencuri perhatian Raja Herodes.

Namun, di balik ketertarikannya pada Yesus, Herodes juga mengalami kegundahan dalam dirinya sendiri. Dalam hatinya, ia merasa bersalah karena telah membunuh Yohanes Pembaptis, seorang pelayan Allah yang takdirnya tragis. Yohanes Pembaptis telah menegur Herodes karena hubungannya dengan Herodias, istri saudaranya sendiri. Dalam kelicikan dan ambisinya, Herodias membujuk putrinya untuk menari di hadapan Herodes dan tamu-tamunya. Keindahan tariannya mengesankan Herodes, hingga akhirnya ia membuat sumpah serapah di depan orang banyak bahwa ia akan memberikan putri Herodias apa saja yang dimintanya, bahkan setengah dari kerajaannya.

Disayangkan, yang diminta oleh putri Herodias adalah kepala Yohanes Pembaptis. Herodes yang tertekan oleh sumpahnya sendiri pun merasa terpaksa untuk memenuhi permintaan tersebut, meskipun ia menyesalinya. Kepala Yohanes dipenggal dan diserahkan kepada putri Herodias, dan akhirnya dibawa pergi.

Kisah ini menyoroti dampak yang mengerikan dari dendam yang tidak terkontrol. Herodes dan Herodias adalah contoh yang sangat jelas tentang bagaimana dendam dapat membutakan dan menghancurkan hidup seseorang. Dendam yang dimiliki Herodias terhadap Yohanes Pembaptis tidak berpihak pada kebenaran, tetapi murni berasal dari keinginan pribadinya, ambisi duniawi dan mengabaikan hati nurani. Herodias bahkan menggunakan putrinya untuk memperoleh apa yang diinginkannya dan membawa Herodes ke dalam perbuatan yang sangat keji.

Namun, kita tidak boleh hanya melihat kisah ini sebagai contoh dari pemberontakan manusia terhadap kehendak Allah. Sebaliknya, kita perlu merenungkan pengaruh buruk yang dendam dan kemarahan dapat miliki pada diri kita sendiri. Apakah kita juga senantiasa merasa tergoda untuk membawa dendam dan membalas ketika kita disakiti atau dianiaya? Apakah kita telah merasa begitu yakin dalam kebenaran pribadi kita sehingga kita mengorbankan nilai-nilai moral dan pandangan Allah? Hidup kita harus selalu diwarnai oleh kasih dan pengampunan, bukan dendam dan kekejaman.

Dalam Matius 5:44 Yesus berfirman, "Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu, berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu." Yesus memberikan teladan yang sempurna dalam menghadapi dendam dan kebencian. Dalam penderitaan-Nya sendiri, Dia memilih untuk mengampuni dan berdoa bagi mereka yang menyalibkan-Nya. Yesus tidak pernah membalas dendam atau meminta pertolongan malaikat-Nya untuk membasmi musuh-musuh-Nya. Dia memilih jalan yang memberikan kehidupan kekal bagi banyak orang.

Sebagai umat yang mengikuti Yesus, tugas kita adalah mengikuti teladan-Nya dalam mengatasi dendam. Kita harus mengampuni dan mengasihi musuh kita, berdoa bagi mereka yang menyakiti kita. Bukanlah tugas kita untuk membalas dendam atau menghakimi orang lain, tetapi untuk membawa mereka kepada kasih Allah yang mampu menyembuhkan dan mengubah hati.

Jadi, mari kita belajar dari kisah yang tragis ini, untuk menjadikan hidup kita sebagai saluran kebaikan dan kasih Allah. Meredam dendam adalah tantangan besar, tetapi dengan Roh Kudus sebagai penghibur dan penyembuh kita, kita dapat memilih untuk mengasihi dan mengampuni seperti Yesus. Dengan demikian, kita dapat mengalami kebebasan yang sejati dan damai sejahtera dalam hidup kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENAKLUKKAN KECEMASAN

Saudara-saudara yang dikasihi dalam Kristus, Hari ini, ayo kita renungkan tentang kecemasan yang sering menghampiri hidup kita. Dalam situasi tekanan dan tantangan, cemas dapat dengan mudah menyelinap ke dalam pikiran dan hati kita, membuat kita terjerat dalam ketakutan yang tidak sehat. Tetapi, dalam 1 Petrus 5:7, Tuhan telah memberikan petunjuk yang jelas: "Serkahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu." Pertama, mari kita pahami bahwa kecemasan adalah suatu hal yang alami bagi manusia. Tidak ada yang terlepas dari rasa cemas dalam hidup ini. Namun, sebagai orang percaya, kita harus menghindari agar kecemasan tidak menguasai hidup kita. Firman Tuhan menekankan bahwa kita harus menyerahkan semua kecemasan kepada Tuhan. Dia adalah Pemelihara kita, Dia mengasihani dan mengerti segala sesuatu yang kita alami. Ketika kita menyerahkan kecemasan kepada Tuhan, kita menunjukkan kepercayaan dan ketergantungan kita kepada-Nya. Kita menyerahkan semua kekhaw...

KESETIAAN MELEWATI MASA-MASA KEGAGALAN

Kebanyakan film romantis menggambarkan kisah cinta anak muda. Film tersebut biasanya menampilkan adegan yang sempurna di mana dua individu jatuh cinta. Lalu bolak-balik dari saat mereka jatuh cinta, kemudian dipercepat ke adegan di mana mereka telah tua dan memiliki anak-anak, menunjukkan cinta dalam tahap yang paling dewasa. Permasalahannya bahwa kisah romantis ini hanya menunjukkan sisi awal dan akhir. Semua orang dapat merasakan cinta anak muda yang begitu menggairahkan, tetapi tidak semua orang dapat mengalami cinta yang berkembang secara utuh. Perjuangan cinta yang paling berat adalah diantaranya, melalui proses menuju dewasa. Inilah yang akan membuat hubungan tetap bertahan di masa-masa sukar. Kesetiaan terhadap satu sama lain terbukti ketika mengalami masa-masa kegagalan. Tuhan tetap setia bahkan ketika manusia tidak setia. Ia terus menerus tertolak seperti seorang suami setia yang istrinya belum pulang ke rumah, meskipun ia tahu apa yang sedang dilakukan istrinya. Dan ia sepert...