Langsung ke konten utama

From ZERO to HERO: Gideon Pahlawan Iman

From ZERO to HERO: Gideon Pahlawan Iman

2 Korintus 4:7
“Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.”


Seringkali kita melihat orang-orang dengan latar belakang yang rusak namun dipakai Tuhan luar biasa. Mereka yang memiliki masa lalu yang kelam, hidup dalam berbagai dosa, kriminal, pecandu, dan sering keluar masuk penjara, mereka yang bagi dunia tidak memiliki nilai dan tidak ada harapan untuk berubah. Tetapi ternyata kita terkejut melihat transformasi yang terjadi atas mereka. Bisa jadi pula mereka tadinya kita kenal sebagai orang yang penuh kelemahan. Tidak berani tampil di muka umum, tidak pandai berbicara, bukan orang yang peduli, punya inisiatif, dan sebagainya, tetapi kemudian mereka tampil melayani Tuhan dengan hebat.

Manusia memang sering mengukur dari kemampuan individu. Dalam dunia pekerjaan pun orang-orang yang dipilih kerja biasanya adalah orang-orang yang dianggap punya kemampuan menonjol, punya pengalaman segudang atau punya gelar bertumpuk. Tetapi anehnya Tuhan justru memilih orang-orang yang biasa, orang-orang yang mungkin tidak menonjol bahkan mungkin tidak berguna dalam pandangan manusia untuk dipakai secara luar biasa. Kita menemukan begitu banyak orang-orang seperti ini dalam alkitab, dan inipun masih berlaku hingga hari ini.
Orang-orang biasa diubahkan lalu dipakai melakukan hal-hal luar biasa untuk Tuhan. Tuhan sangat suka melakukan itu.

Ada banyak tokoh-tokoh yang dipakai Tuhan secara luar biasa itu bukanlah berasal dari orang-orang yang punya latar belakang hebat, salah satunya adalah Gideon. Mari kita baca kisahnya di Hakim-Hakim 6:11-19. Gideon adalah seorang yang sangat insecure. Bahkan sewaktu malaikat Tuhan datang dan memanggil dia “pahlawan yang gagah berani”, dia malah merespon dengan sangat pesimis, “Yah, aku mah cuma apa sih, sukuku yang paling kecil. Aku paling muda lagi di keluarga, anak bontot doank. Yang bener aja aku dipanggil buat berperang menyelamatkan bangsaku.”

Bangsa Israel pada waktu itu ditindas oleh bangsa-bangsa besar, yaitu bangsa Midian, Amalek, dan orang-orang lainnya dari arah Timur, selama 7 tahun hidup mereka harus menderita. Harta mereka dirampas, makanan mereka diambil, ternak juga semuanya direbut. Sampai-sampai Gideon saja harus mengirik gandum di tempat pemerasan anggur. Tahukah kamu tempat mengirik gandum itu harus di tempat yang terbuka dan berangin supaya kulit gandumnya dapat tertiup dan lepas sehingga menjadi beras yang biasa kita masak menjadi nasi. Sedangkan, tempat pemerasan anggur sebenarnya tidak ideal untuk mengirik gandum. Tempatnya seperti lubang sumur, sempit dan masuk ke dalam. Hal ini membuktikan bahwa Gideon sebenarnya sangat takut dengan orang-orang Midian, sehingga dia mau mengirik gandum di tempat yang sulit dan tidak biasa.

Selain penakut, Gideon ini juga adalah orang yang mungkin kita akan hakimi sebagai orang yang tidak pantas menjadi pahlawan, tidak pantas dipakai Tuhan, dan mungkin reaksi Gideon ketika bertemu malaikat Tuhan menjadi sangat masuk akal bagi kita. Mengapa demikian? Pertama, Gideon merupakan anak Yoas yang adalah seorang imam kuil berhala. Kedua, Gideon juga adalah seorang peragu, lihat saja kata-katanya kepada malaikat Tuhan, “Tuhan sudah membuang bangsa kami, padahal katanya dulu Tuhan itu membuat mujizat-mujizat hingga bangsa kami bisa keluar dari Mesir. Namun, sekarang kami nyatanya ditindas orang Midian, dan Tuhan tidak berbuat apa-apa.” Bahkan keraguan Gideon tidak hanya pada saat itu, dia sudah diberikan berbagai macam tanda yang ajaib seperti persembahan yang tiba-tiba saja terbakar api walaupun tidak ada pemantiknya, dan dia masih meminta tanda yang tidak masuk akal lagi kepada Tuhan yaitu supaya guntingan bulu domba yang dia taruh dapat menjadi basah, sedangkan sekelilingnya tetap kering. Tentu saja tidak ada yang mustahil bagi Tuhan, namun nyatanya dia masih saja meminta lagi supaya yang terjadi esok hari adalah kebalikannya.

Namun, Gideon dan juga kita adalah manusia-manusia yang terbatas, kita menilai dengan kemampuan kita sebagai manusia yang terbatas. Sedangkan Tuhan seringkali memakai orang-orang yang terbatas seperti itu. Tuhan tidak pernah memilih orang-orang yang superpower, yang perfect di dalam segala hal. Tuhan mau pakai orang-orang biasa seperti anda dan saya untuk melakukan pekerjaanNya. Kita mungkin bukanlah superhero, bukan orang yang berpengaruh di dunia, bukan orang terkaya, mungkin pula bukan orang berpendidikan tinggi dan sebagainya. Mungkin masa lalu kita kelam, penuh dosa. Mungkin kita beranggapan kita tidak ada apa-apanya dan sama sekali bukan dalam kapasitas atau pada tempatnya untuk bisa dipakai Tuhan. Mungkin kita berpikir bahwa kita mudah takut, penuh kelemahan dan sebagainya. Tetapi Tuhan tetap bisa pakai kita. Dan Tuhan sering melakukan hal itu. Mengapa? Lihat apa kata Tuhan: "Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia." (1 Korintus 1:25).

Di tangan Tuhan, orang-orang biasa yang penuh kelemahan bisa diubahkan menjadi luar biasa. Sejak jaman dulu hingga hari ini kita terus melihat bagaimana firman ini dinyatakan. Tokoh-tokoh besar dalam alkitab pun sama seperti kita merupakan manusia biasa yang punya keterbatasan, kelemahan, punya rasa takut, pernah mengalami putus asa, kesepian dan lain-lain. Tapi jika Tuhan bisa mengubah dan memakai mereka secara luar biasa menjadi siapa mereka seperti yang kita kenal hari ini, mengapa tidak bagi kita? Sebab firman Tuhan berkata "Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti" (1 Korintus 1:27-28). Dan ini bertujuan "supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah." (ay 29). Kita tidak perlu merasa rendah diri, merasa tidak sanggup untuk melakukan pekerjaan Tuhan.

Kenyataannya, ketika kita melihat diri kita yang penuh kekurangan, Tuhan melihat jauh lebih dalam di balik semua kekurangan kita. Tuhan melihat kita sebagai seorang anak yang Dia cintai dan kasihi. Kita berharga di mata Tuhan, sekalipun kita memiliki banyak keterbatasan dan kekurangan.Apakah kita tidak PD dengan penampilan kita? Tidak PD dengan kemampuan akademik? Tidak PD dengan apa yang kita miliki? Tidak PD karena follower kita hanya sedikit atau yang menyukai post IG kita hanya sedikit? Tidak PD karena keluarga yang tidak sebaik orang lain? Ini mungkin saatnya iman kita dilatih seperti Tuhan melatih iman Gideon yang merasa dirinya hanya ZERO sehingga dapat menjadi seorang HERO.


Bagaimana caranya kita melatih iman kita? Jawabannya adalah taat. Mari baca kelanjutan kisah Gideon dalam Hakim-Hakim 6:20-30. Seperti Gideon yang disuruh mempersembahkan daging dan roti (20). Padahal jika dipikir-pikir, malaikat itu hanyalah seorang asing bagi Gideon. Jika kita mau hitung-hitungan, apalagi makanan disana langka karena sering dirampas orang-orang Midian. Tetapi Gideon tetap taat mempersembahkan daging dan roti tersebut. Cerita ketaatan Gideon berlanjut ketika dia diminta untuk menghancurkan mezbah Baal kepunyaan ayahnya. Gideon benar-benar menghancurkan tiang-tiang berhala tersebut (25) hingga akhirnya seluruh kota marah dan mau membunuh Gideon karena perbuatannya itu (30). Takut? Pasti (27). Gideon tahu resikonya, namun dia tetap taat. Begitu juga ketika Gideon disuruh memimpin perang dengan orang-orang yang selama ini menindas mereka (34). Takut? Jelas. Apalagi Gideon disuruh berperang hanya dengan 300 orang pasukan, di saat sebenarnya ada 20 ribu pasukan yang siap untuk berperang. Namun, Tuhan hanya ingin memakai 300 orang dari 20 ribu tersebut. Gideon bisa saja tidak taat, toh jika dipikir-pikir dengan akal sehat, dengan 20 ribu orang pasti akan menang jika dengan 300 orang mempunyai kemungkinan yang lebih kecil untuk memenangkan perang. Sekali lagi kita melihat teladan ketaatan dari Gideon, seorang yang awalnya insecure dan memang tidak mempunyai apa-apa yang bisa dia banggakan. Walaupun ending hidup Gideon tidak sebaik permulaan kisahnya, tetapi surat Ibrani 11:31 mencatat dia sebagai salah satu pahlawan iman.

Bagaimana kita bisa taat melakukan kehendak Tuhan walaupun kita lemah dan tidak yakin dengan kemampuan kita? Kuncinya adalah dengan mengikuti pelatih kita. Pelatih kita bukan Gideon tentunya, Gideon hanya manusia lemah yang sama seperti kita. Peran kita adalah seperti Gideon, kita boleh jujur jika kita takut, kita ragu, kita lemah dan mengakui memang kita tidak PD. It’s okay to be not okay. Namun, kita harus membawa semua itu kepada Tuhan dan mengimani bahwa Tuhan akan menuntun kita melewati setiap rencana dan kehendaknya dalam kehidupan kita. Ya, kita memang takut, kita memang sedih ketika kita dihina, dijauhi, atau gagal karena melakukan kehendak Tuhan. Mungkin kalau kita tidak berbuat curang di dalam usaha baik itu di sekolah atau di tempat kerja, kita akan mengalami kegagalan. Mungkin kita merasa penampilan kita tidak baik dan terpuruk karena kita sering diejek sehingga kita gagal melihat kasih Tuhan bagi kita. Namun, ikutilah Tuhan, sang pelatih iman kita. Pandanglah kepadanya, berlarilah dengan-Nya dalam melakukan kehendak-Nya.


Dia mengasihi kita dan menganggap kita berharga di mata-Nya. Ingatlah bahwa mereka yang dipilih Tuhan selama ini pun adalah orang-orang biasa yang sama seperti kita juga. Punya kelemahan, keterbatasan, pernah takut, pernah lemah, dan lain-lain, tetapi di tangan Tuhan mereka bisa diubahkan secara luar biasa. Seringkali pertanyaan yang diberikan Tuhan bukanlah kita bisa atau tidak, tetapi apakah kita mau atau tidak. Apakah kita memiliki ketaatan, kerendahan hati dan kesediaan untuk mau diubahkan Tuhan dan dipakaiNya. Maukah kita melayani Tuhan, menjadi perantara, agenNya di dunia ini, menjadi terang dan garam, memberkati orang-orang disekitar kita? Kesediaan kita, dan bukan kehebatan kita, itulah yang diinginkan Tuhan.


JESUS BLESSED

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KASIH ABADI ALLAH

Yeremia 31:3 “Dari jauh TUHAN menampakkan diri kepadanya: Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu.” Orang Israel berulang kali berdosa terhadap Allah. Bahkan setelah banyak peringatan, mereka gagal untuk bertobat. Tetapi Tuhan kita ialah Tuhan yang murah hati. Terlepas dari kedegilan hati mereka, Dia masih memulihkan mereka. Dalam Yeremia 31, kita membaca bagaimana Tuhan menjangkau umat-Nya dengan kebaikan yang lahir dari kasih kekal yang mendalam bagi mereka. Kasih ini bermula sejak kekekalan di masa lampau dan terus berlanjut kepada kekekalan di masa mendatang. Tuhan adalah sumber kasih ini. KasihNya tidak didasarkan oleh apa yang Dia lihat atau apa yang telah terjadi. Inilah Tuhan, sifat-Nya. Tidak ada yang dapat kita lakukan untuk mendapatkan kasih-Nya atau melenyapkan kasih-Nya kepada kita. Dan dengan kebaikan-Nya yang tiada putus-putusnya, Dia dengan sabar dan penuh kasih menarik kita kepada-Nya. Begitu besar kasih-Nya, hing...

MENAKLUKKAN KECEMASAN

Saudara-saudara yang dikasihi dalam Kristus, Hari ini, ayo kita renungkan tentang kecemasan yang sering menghampiri hidup kita. Dalam situasi tekanan dan tantangan, cemas dapat dengan mudah menyelinap ke dalam pikiran dan hati kita, membuat kita terjerat dalam ketakutan yang tidak sehat. Tetapi, dalam 1 Petrus 5:7, Tuhan telah memberikan petunjuk yang jelas: "Serkahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu." Pertama, mari kita pahami bahwa kecemasan adalah suatu hal yang alami bagi manusia. Tidak ada yang terlepas dari rasa cemas dalam hidup ini. Namun, sebagai orang percaya, kita harus menghindari agar kecemasan tidak menguasai hidup kita. Firman Tuhan menekankan bahwa kita harus menyerahkan semua kecemasan kepada Tuhan. Dia adalah Pemelihara kita, Dia mengasihani dan mengerti segala sesuatu yang kita alami. Ketika kita menyerahkan kecemasan kepada Tuhan, kita menunjukkan kepercayaan dan ketergantungan kita kepada-Nya. Kita menyerahkan semua kekhaw...

KESETIAAN MELEWATI MASA-MASA KEGAGALAN

Kebanyakan film romantis menggambarkan kisah cinta anak muda. Film tersebut biasanya menampilkan adegan yang sempurna di mana dua individu jatuh cinta. Lalu bolak-balik dari saat mereka jatuh cinta, kemudian dipercepat ke adegan di mana mereka telah tua dan memiliki anak-anak, menunjukkan cinta dalam tahap yang paling dewasa. Permasalahannya bahwa kisah romantis ini hanya menunjukkan sisi awal dan akhir. Semua orang dapat merasakan cinta anak muda yang begitu menggairahkan, tetapi tidak semua orang dapat mengalami cinta yang berkembang secara utuh. Perjuangan cinta yang paling berat adalah diantaranya, melalui proses menuju dewasa. Inilah yang akan membuat hubungan tetap bertahan di masa-masa sukar. Kesetiaan terhadap satu sama lain terbukti ketika mengalami masa-masa kegagalan. Tuhan tetap setia bahkan ketika manusia tidak setia. Ia terus menerus tertolak seperti seorang suami setia yang istrinya belum pulang ke rumah, meskipun ia tahu apa yang sedang dilakukan istrinya. Dan ia sepert...